Akad yang melibatkan pertukaran harta, barang, manfaat, atau jasa dengan imbalan tertentu.
| No. | Nama akad | Pengertian singkat |
| 1 | البيع — Al-Bay‘ | Jual beli barang atau harta dengan imbalan harta. |
| 2 | الصرف — Al-Ṣarf | Pertukaran uang dengan uang, seperti emas dengan perak atau mata uang. |
| 3 | السَّلَم — Al-Salam | Pembelian barang yang ditentukan spesifikasinya dengan pembayaran di muka dan penyerahan kemudian. |
| 4 | الاستصناع — Al-Istiṣnā‘ | Pemesanan pembuatan barang berdasarkan spesifikasi tertentu. |
| 5 | الإجارة — Al-Ijārah | Akad atas manfaat barang atau jasa dengan imbalan tertentu, seperti sewa rumah atau upah pekerja. |
| 6 | الجُعالة — Al-Ju‘ālah | Janji imbalan untuk suatu hasil pekerjaan, seperti hadiah bagi orang yang menemukan barang hilang. |
1. Al-Bay‘ (Jual-Beli)
Dalam bahasa Arab ia berarti menukar sesuatu dengan sesuatu. Adapun secara istilah, al-Nawawi (w. 676 H) mendefinisikannya:
البيع: مقابلة مال بمال تمليكاً.
“Jual beli adalah pertukaran harta dengan harta dalam rangka pemindahan kepemilikan.”
Hukum Asal: Boleh berdasarkan Ijmak.
Asy-Syāfi‘ī (w. 204 H) berkata:
أصل البيوع كلها مباح إذا كانت برضا المتبايعين الجائزي الأمر فيما تبايعا، إلا ما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم منها،
“Pada dasarnya seluruh bentuk jual beli adalah boleh apabila dilakukan atas dasar keridaan dua orang yang melakukan transaksi, yang keduanya memiliki kewenangan melakukan transaksi terhadap barang yang mereka perjualbelikan, kecuali bentuk jual beli yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ.
وما كان في معنى ما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم محرم بإذنه داخل في المعنى المنهي عنه، وما فارق ذلك أبحناه بماوصفنا من إباحة البيع في كتاب الله تعالى
Apa yang termasuk dalam makna sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ adalah haram berdasarkan ketetapan beliau, karena masuk dalam makna larangan tersebut. Adapun yang tidak termasuk di dalamnya, maka kami membolehkannya berdasarkan apa yang telah kami jelaskan mengenai pembolehan jual beli dalam Kitab Allah Ta‘ālā.”
Dalil:
Allah berfirman:
وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [QS. Al-Baqarah (2:275)]
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” [QS. An-Nisa’ (4:29)]
Dari Rāfi‘ bin Khadīj: “Ditanyakan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟
‘Wahai Rasulullah, penghasilan apakah yang paling baik?’
Beliau menjawab,
عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
‘Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (tidak mengandung dosa).’”
Takhrij: Diriwayatkan oleh Aḥmad (17265), aṭ-Ṭabarānī dalam al-Awsaṭ (7918), dan Ibn Abī ad-Dunyā dalam Iṣlāḥ al-Māl (309), dengan lafaz yang sama seperti di atas. Dishahihkan al-Albani, dihasankan al-Arnauth.
2. Al-Ṣarf (Pertukaran)
Ṣarf secara bahasa Arab berarti tambahan. Adapun ṣarf secara syariat adalah:
بيع النقد بالنقد جنساً بجنس أو بغير جنس
“jual beli uang dengan uang, baik antara jenis yang sama maupun jenis yang berbeda.”
Yakni, jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, atau emas dengan perak, baik dalam bentuk yang telah dibuat menjadi barang maupun dalam bentuk uang.
Syarat-syaratnya ada empat:
- Serah terima dilakukan sebelum kedua pihak yang bertransaksi berpisah.
- Sama kadarnya, apabila yang dipertukarkan sejenis (walaupun berbeda kualitas).
- Tidak terdapat khiyār (hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual-beli) di dalamnya.
- Tidak terdapat penangguhan/pengunduran waktu.
[Lihat: al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu karya az-Zuḥailī (5/3659)]
Dalil:
‘Ubādah bin aṣ-Ṣāmit berkata:
إنِّي سَمِعتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَنهى عن بَيعِ الذَّهَبِ بالذَّهَبِ، والفِضَّةِ بالفِضَّةِ، والبُرِّ بالبُرِّ، والشَّعيرِ بالشَّعيرِ، والتَّمرِ بالتَّمرِ، والمِلحِ بالمِلحِ، إلَّا سَواءً بسَواءٍ، عَينًا بعَينٍ، فمَن زادَ أوِ ازدادَ فقد أربى
‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, kecuali sama dengan sama dan secara tunai langsung. Barang siapa menambah atau meminta tambahan, sungguh ia telah melakukan riba.’”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim Nomor: 1587
3. Al-Salam atau Al-Salaf (Barang Ditangguhkan Menjadi Tanggungan)
Definisinya:
بيع آجل بعاجل، أو بيع شيء موصوف في الذمة
“jual beli barang yang penyerahannya ditangguhkan dengan pembayaran yang dilakukan secara tunai, atau jual beli suatu barang yang sifat-sifatnya ditentukan dan menjadi tanggungan.”
Maksudnya, modal atau harga dibayarkan terlebih dahulu, sedangkan barang yang dijual diserahkan kemudian pada waktu yang telah ditentukan.
[Lihat: al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu karya az-Zuḥailī (5/3603)]
Syarat-syarat Akad Salam:
Para imam mazhab sepakat bahwa akad salam sah dengan enam syarat, yaitu:
- Barangnya termasuk dalam jenis yang diketahui.
- Memiliki sifat yang diketahui.
- Memiliki jumlah atau ukuran yang diketahui.
- Memiliki waktu penyerahan yang diketahui.
- Diketahui jumlah modal salam.
- Ditentukan tempat penyerahan barang, apabila pemindahan barang tersebut membutuhkan biaya dan pengeluaran.
Mereka juga sepakat tentang bolehnya akad salam pada:
- barang-barang yang ditakar,
- ditimbang,
- diukur panjangnya,
- serta barang-barang yang dihitung yang satuannya relatif seragam, seperti kenari, badam, telur, dan yang semisalnya.
Dalil:
Ayat tentang utang-piutang ditafsirkan mencakup akad salam, yaitu firman Allah Ta‘ālā:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah dengan utang-piutang sampai waktu yang telah ditentukan, maka tulislah.” [QS. Al-Baqarah 2:282]
Ibn ‘Abbās berkata:
أشهد أن السلف المضمون إلى أجل مسمى قد أحله الله في كتابه وأذن فيه
“Aku bersaksi bahwa salaf yang dijamin sampai waktu yang telah ditentukan benar-benar telah Allah halalkan dalam Kitab-Nya dan Dia izinkan.”
Kemudian beliau membaca ayat tersebut.
Takhrij: Diriwayatkan al-Syafi‘i dalam al-Musnad (hlm. 138), ‘Abd al-Razzaq dalam al-Muṣannaf (no. 14064), dan al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubrā. Dishahihkan al-Hakim, Ibnu al-Mulaqqin, al-Albani, dan al-Arnauth.
Dari Ibn ‘Abbās, ia berkata:
«قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِي الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ، فَقَالَ: مَنْ أَسْلَفَ فِي تَمْرٍ، فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ، وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ»
“Nabi ﷺ datang ke Madinah, sementara mereka melakukan akad salaf pada buah-buahan untuk jangka waktu satu tahun dan dua tahun. Maka beliau bersabda:
‘Barang siapa melakukan akad salaf pada kurma, hendaklah ia melakukannya dengan takaran yang diketahui, timbangan yang diketahui, dan sampai waktu yang diketahui.’”
Takhrij: Diriwayatkan oleh al-Bukhārī (2240) dan Muslim (1604) dengan sedikit perbedaan redaksi.
4. Al-Istiṣnā‘ (Pemesanan Produk)
Secara bahasa Arab, istisnā‘ berarti meminta agar sesuatu dibuat. Sedangkan ṣan‘ah adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pembuat dalam bidang kerajinannya atau profesinya
Secara istilah fikih:
طلب العمل من الصانع في شيء مخصوص على وجه مخصوص.
“meminta suatu pekerjaan kepada seorang pembuat untuk membuat sesuatu tertentu dengan cara tertentu.”
Contoh istisnā‘: seseorang memesan 100 meja sekolah kepada pengrajin dengan spesifikasi tertentu, harga Rp50 juta, dan penyerahan tiga bulan kemudian.
Catatan penting:
Barang atau bahan yang digunakan dalam pembuatan, sekaligus pekerjaan pembuatannya, berasal dari pihak pembuat. Apabila barang atau bahannya berasal dari pihak yang memesan, bukan dari pembuat, maka akad tersebut menjadi ijārah, bukan istisnā‘.
Hukum:
Terdapat dua pandangan ulama’:
- Hanafi: membolehkannya sebagai bentuk akad independen.
- Maliki, Syafi’i, dan Hanbali: tidak mengesahkannya sebagai akad independen, tetapi mengesahkannya jika memenuhi ketentuan akad salam.
Dalil: berdasarkan istiḥsān.
Al-Kāsānī (w. 587 H) dari mazhab Hanafi, dalam Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, 5/2, menyatakan:
وَأَمَّا جَوَازُهُ، فَالْقِيَاسُ: أَنْ لَا يَجُوزَ؛ لِأَنَّهُ بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ، لَا عَلَى وَجْهِ السَّلَمِ.
“Adapun kebolehannya, menurut qiyas seharusnya tidak diperbolehkan, karena merupakan penjualan sesuatu yang belum dimiliki seseorang, bukan dalam bentuk akad salam.”
Kemudian beliau menjelaskan:
وَيَجُوزُ اسْتِحْسَانًا؛ لِإِجْمَاعِ النَّاسِ عَلَى ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُمْ يَعْمَلُونَ ذَلِكَ فِي سَائِرِ الْأَعْصَارِ مِنْ غَيْرِ نُكْرٍ.
“Namun, akad tersebut diperbolehkan berdasarkan istiḥsān, karena kesepakatan praktik masyarakat atas hal tersebut, sebab mereka melakukannya sepanjang masa tanpa adanya pengingkaran.”
Dalil yang diperselisihkan: Riwayat Abdullah bin ’Umar:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ.
“Bahwa Rasulullah ﷺ memesan pembuatan sebuah cincin dari emas.”
[Sumber: Shahih al-Bukhari (5876) dan Muslim (2091)].
Sanggahan atas pendalilan dengannya: Hadis ini tidak menjelaskan cara pembayarannya ataupun siapa penyedia bahan bakunya. Karena itu, hadis ini menunjukkan adanya praktik meminta pembuatan barang, tetapi belum secara tegas membuktikan bolehnya akad istiṣnā‘ dengan pembayaran harga yang ditangguhkan.
Perbandingan praktis: istiṣnā‘ dengan salam
| Ketentuan | Istiṣnā‘ menurut pendekatan Hanafi | Salam menurut jumhur |
| Barang belum selesai dibuat | Boleh | Boleh |
| Harga dibayar di awal | Boleh | Wajib menurut ketentuan pokok salam |
| Harga dibayar saat barang selesai | Dapat dibolehkan | Tidak sah sebagai salam |
| Harga dicicil selama produksi | Dapat dibolehkan | Tidak sah sebagai salam biasa |
| Barang harus jelas spesifikasinya | Wajib | Wajib |
| Batas waktu penyerahan | Ada perbedaan internal Hanafi | Diatur menurut syarat salam |
| Kewajiban para pihak | Ada perincian klasik tentang hak membatalkan | Pada dasarnya mengikat setelah akad sah |
Perbedaan paling nyata adalah pembayaran di muka. Dalam salam, pembayaran harga merupakan syarat pokok yang membedakannya dari transaksi penangguhan kedua imbalan.
Keputusan Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī al-Duwalī No. 65 (7/3), 14 Mei 1992, menerima istiṣnā‘ sebagai akad yang mengikat kedua pihak apabila terpenuhi rukun dan syaratnya.
Beberapa ketentuan pentingnya adalah:
- Jenis, ukuran, jumlah, dan spesifikasi barang harus jelas.
- Waktu penyerahan harus ditentukan.
- Harga boleh ditunda seluruhnya ataupun dibayar secara angsuran pada waktu yang disepakati.
- Syarat penalti dapat disepakati dengan ketentuan tertentu, kecuali terdapat keadaan memaksa.
5. Al-Ijārah (Sewa Jasa)
Definisinya:
تمليك المنفعة بعوض
“pemindahan kepemilikan manfaat dengan suatu imbalan.”
[Lihat: al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu karya az-Zuḥailī (4/2897)]
Hukumnya: Boleh berdasarkan Ijmak di era para Sahabat.
Dalil:
Firman Allah Ta‘ālā:
﴿فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ﴾ [الطلاق: 6]
“Jika mereka menyusukan anak-anak kalian untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya.” [QS. at-Thalaq 65:6]
Dan firman Allah عز وجل ketika menceritakan perkataan salah seorang dari dua putri Syu‘aib عليه السلام:
﴿قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ﴾ [القصص: 26-27]
“Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, ‘Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’
Ia berkata, ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua putriku ini dengan syarat engkau bekerja kepadaku selama delapan tahun. Jika engkau menyempurnakannya menjadi sepuluh tahun, maka itu merupakan kebaikan darimu sendiri.’” [QS. Al-Qaṣaṣ 28:26-27]
Dari ‘Abdullāh bin ‘Umar, Rasulullah bersabda:
«أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ»
“Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya.”
Takhrij: Diriwayatkan oleh Ibn Mājah (2443) dan al-Quḍā‘ī dalam Musnad al-Syihāb (744), dan lafaz di atas adalah lafaz al-Quḍā‘ī. Dishahihkan al-Albani.
Dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās, beliau berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ احْتَجَمَ، وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ، وَاسْتَعَطَ»
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berbekam, memberikan upah kepada tukang bekam, dan menggunakan obat melalui hidung.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 1202, diriwayatkan oleh al-Bukhārī (5691) dengan sedikit perbedaan redaksi.
6. Al-Ju‘ālah (Sayembara)
Secara bahasa Arab, ju‘ālah, ju‘l, atau ja‘liyyah adalah sesuatu yang ditetapkan bagi seseorang sebagai imbalan atas melakukan suatu pekerjaan, atau sesuatu yang diberikan kepada seseorang karena suatu pekerjaan yang dilakukannya.
Adapun secara syariat, ju‘ālah adalah:
التزام عوض معلوم على عمل معين، أو مجهول، عسر علمه
“komitmen memberikan imbalan tertentu atas suatu pekerjaan tertentu, atau atas pekerjaan yang belum diketahui secara pasti dan sulit diketahui sebelumnya.”
Hukum:
Boleh menurut mayoritas ulama’, yakni mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
Dalil:
Firman Allah Ta‘ālā dalam kisah Yūsuf bersama saudara-saudaranya:
﴿قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ﴾ [يوسف: 72]
“Mereka berkata, ‘Kami kehilangan piala raja. Barang siapa membawanya, ia akan memperoleh muatan seekor unta, dan aku menjamin hal itu.’” [QS. Yūsuf 12:72]
Bentuk-bentuk jual beli klasik
Di bawah akad al-bay‘, terdapat berbagai bentuk transaksi.
| No. | Jenis jual beli | Ciri khas |
| 7 | بيع المساومة — Musāwamah | Harga disepakati melalui tawar-menawar tanpa harus mengungkap modal penjual. |
| 8 | بيع المرابحة — Murābaḥah | Harga jual berdasarkan modal yang diberitahukan ditambah laba tertentu. |
| 9 | بيع التولية — Tawliyah | Menjual barang sebesar harga perolehan tanpa keuntungan. |
| 10 | بيع الوضيعة — Waḍī‘ah | Menjual barang di bawah harga perolehan dengan kerugian yang diketahui. |
| 11 | بيع الإشراك — Isyrāk | Mengikutsertakan orang lain dalam sebagian kepemilikan barang berdasarkan harga perolehan proporsional. |
| 12 | بيع المزايدة — Muzāyadah | Jual beli melalui penawaran harga tertinggi atau lelang. |
| 13 | بيع المقايضة — Muqāyaḍah | Barter, yaitu pertukaran barang dengan barang. |
| 14 | بيع النسيئة — Nasī’ah | Jual beli dengan pembayaran yang ditangguhkan. |
| 15 | بيع العربون — ‘Urbūn | Jual beli dengan uang muka yang memiliki ketentuan khusus apabila pembeli membatalkan transaksi. |
Kesembilan jenis ini tidak semuanya merupakan akad pokok yang terpisah. Sebagian merupakan variasi penetapan harga, pembayaran, atau mekanisme jual beli.
7. Musāwamah (Modal tidak Diungkapkan)
Definisi:
البيع بأي ثمن كان من غير نظر إلى الثمن الأول الذي اشتري به الشيء
“jual beli dengan harga berapa pun tanpa melihat kepada harga pertama yang digunakan untuk membeli barang tersebut.”
Jadi, Musawamah adalah jual beli berdasarkan harga yang disepakati penjual dan pembeli tanpa menjadikan harga perolehan penjual sebagai dasar perhitungan yang diungkapkan.
Hukum: Boleh menurut empat mazhab.
Dalil:
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menawar untanya:
قَالَ: بِعْنِيهِ بِأُوقِيَّةٍ، قُلْتُ: لَا، ثُمَّ قَالَ: بِعْنِيهِ، فَبِعْتُهُ بِأُوقِيَّةٍ.
“Beliau bersabda, ‘Juallah kepadaku dengan satu uqiyah.’ Aku berkata, ‘Tidak.’ Kemudian beliau kembali bersabda, ‘Juallah kepadaku.’ Maka aku menjualnya kepada beliau dengan satu uqiyah.”
Takhrij: Shahih Muslim, no. 715.
8. Murābaḥah (Harga > Modal, Laba Diungkapkan)
Definisi:
البيع بمثل الثمن الأول مع زيادة ربح.
“jual beli dengan harga yang sama dengan harga pertama, disertai tambahan keuntungan.”
Menurut Malikiyah:
أن يعرِّف صاحب السلعة المشتري بكم اشتراها، ويأخذ منه ربحاً إما على الجملة
pemilik barang memberitahukan kepada pembeli berapa harga barang tersebut ketika ia membelinya, kemudian ia mengambil keuntungan dari pembeli.
Contoh: ia berkata, “aku membeli barang ini seharga Rp 1juta, engkau memberiku keuntungan Rp 100ribu.”
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab, namun ada sejumlah perbedaan dalam ketentuannya.
9. Tawliyah (Harga = Modal)
Definisi:
البيع بمثل الثمن الأول أي برأس المال من غير زيادة ربح
“jual beli dengan harga yang sama dengan harga pembelian pertama, yakni sebesar modal, tanpa tambahan keuntungan.”
Seakan-akan penjual menjadikan pembeli menggantikan posisinya dalam kepemilikan barang yang dijual tersebut.
Asal-usul namanya sebagai berikut, al-Nawawī berkata dalam Minhāj al-Ṭālibīn (hlm. 104):
اشْتَرَى شَيْئًا، ثُمَّ قَالَ لِلْعَالِمِ بِالثَّمَنِ: وَلَّيْتُكَ هَذَا الْعَقْدَ، فَقَبِلَ، لَزِمَهُ مِثْلُ الثَّمَنِ.
“Seseorang membeli suatu barang, kemudian berkata kepada orang yang mengetahui harganya, ‘Aku menyerahkan akad ini kepadamu (dengan tawliyah).’ Lalu orang tersebut menerimanya, maka berlaku baginya harga yang sama.”
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab.
10. Isyrāk (Bersekutu dalam Pembelian)
Definisi:
كبيع التولية، إلا أنه بيع بعض المبيع ببعض الثمن.
Yaitu seperti bay‘ at-tawliyah, hanya saja yang dijual adalah sebagian dari barang dengan sebagian dari harga pembelian.
Contoh: seseorang membeli barang seharga Rp2 juta, kemudian mengajak orang lain memiliki separuh barang tersebut dengan membayar Rp1 juta.
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab.
Dalil:
Dari Zuhrah bin Ma‘bad, beliau menceritakan bahwa kakeknya, Abdullah bin Hisyam, pergi ke pasar dan membeli makanan. Kemudian Ibn Umar dan Ibn al-Zubayr bertemu dengannya lalu berkata:
أَشْرِكْنَا، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ دَعَا لَكَ بِالْبَرَكَةِ، فَيُشْرِكُهُمْ.
“Ikutsertakanlah kami, karena Nabi ﷺ telah mendoakan keberkahan untukmu. Maka ia pun mengikutsertakan mereka.”
Takhrij: Shahih al-Bukhari, no. 2502, Kitāb al-Syirkah, Bāb al-Syirkah fī al-Ṭa‘ām wa Ghayrih.
11. Waḍī‘ah (Harga < Modal)
Definisi:
بيع بمثل الثمن الأول، مع نقصان شيء معلوم منه.
“jual beli dengan harga yang berpatokan pada harga pembelian pertama, tetapi dengan pengurangan sejumlah tertentu yang diketahui dari harga tersebut.”
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab.
12. Muzāyadah (Lelang Terbuka)
Definisi:
البيع ممن يزيد
“penjualan kepada pihak yang memberikan penawaran lebih tinggi.”
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab.
Dalil:
Dari Anas bin Mālik:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menjual sebuah alas pelana dan sebuah mangkuk. Beliau bersabda:
مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْحِلْسَ وَالْقَدَحَ؟
‘Siapa yang mau membeli alas pelana dan mangkuk ini?’
Seorang laki-laki berkata:
أَخَذْتُهُمَا بِدِرْهَمٍ
‘Aku mengambil keduanya dengan harga satu dirham.’
Nabi ﷺ kemudian bersabda:
مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟
‘Siapa yang menambah lebih dari satu dirham? Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?’
Lalu seorang laki-laki memberikan dua dirham kepada beliau, maka beliau menjual keduanya kepadanya.”
Takhrīj: Diriwayatkan oleh al-Tirmiżī (1218) Abū Dāwūd (1641), Ibn Mājah (2198), dihasankan al-Tirmiżī.
13. Muqāyaḍah (Barter)
Definisi:
Al-Kāsānī (w. 587 H) dalam Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, Kitāb al-Buyū‘, mengatakan:
بَيْعُ الْعَيْنِ بِالْعَيْنِ وَهُوَ بَيْعُ السِّلَعِ بِالسِّلَعِ، وَيُسَمَّى بَيْعَ الْمُقَايَضَةِ.
“Menjual barang konkret dengan barang konkret, yaitu pertukaran barang dengan barang, dan dinamakan jual beli muqayadhah.”
Hukum: Boleh dan sah menurut empat mazhab, kecuali ada ketentuan khusus pada harta ribawi.
14. Nasī’ah (Penangguhan Pembayaran)
Definisi:
Nasī’ah berasal dari النَّسَاء yang bermakna penangguhan atau penundaan.
Dalam pembahasan jual beli, bay‘ al-nasī’ah biasanya merujuk kepada jual beli ketika barang diserahkan lebih dahulu, sedangkan pembayaran harganya ditangguhkan sampai waktu tertentu.
Contoh: seseorang membeli sepeda motor seharga Rp25 juta dengan pembayaran enam bulan kemudian.
Hukum: Boleh dan sah.
Dalil:
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian melakukan transaksi utang-piutang sampai batas waktu yang ditentukan, maka tulislah.” (QS. al-Baqarah: 282)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعًا لَهُ مِنْ حَدِيدٍ.
“Rasulullah ﷺ membeli makanan dari seorang Yahudi secara tangguh, dan beliau menggadaikan baju besi miliknya kepadanya.”
Takhrij: Shahih al-Bukhari, no. 2251; Shahih Muslim, no. 1603.
Permasalahan:
Bolehkah harga kredit lebih mahal daripada harga tunai?
Menurut pendapat mayoritas fuqaha empat mazhab, harga jual secara tangguh boleh lebih mahal daripada harga tunai, apabila satu harga final disepakati pada saat akad dan tidak ada tambahan atas utang karena keterlambatan pembayaran.
Ada tiga keadaan yang harus dibedakan:
| Bentuk transaksi | Hukum |
| Harga kredit Rp12 juta disepakati secara pasti sejak akad | Boleh |
| Harga tunai Rp10 juta atau kredit Rp12 juta, tetapi akad diselesaikan tanpa memilih salah satunya | Tidak sah menurut jumhur karena harga tidak pasti |
| Utang Rp12 juta yang sudah jatuh tempo dinaikkan menjadi Rp13 juta agar diberi tambahan waktu | Haram, termasuk riba |
Pembedaan ini juga ditegaskan dalam keputusan Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī al-Duwalī No. 51 (6/2), tahun 1990, tentang al-Bay‘ bi al-Taqsīṭ (jual beli angsuran).
15. ‘Urbūn (Uang Muka)
Definisi:
Ibn Qudāmah dalam al-Mughnī, 4/160, menjelaskan:
وَالْعُرْبُونُ فِي الْبَيْعِ هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ السِّلْعَةَ فَيَدْفَعَ إِلَى الْبَائِعِ دِرْهَمًا أَوْ غَيْرَهُ عَلَى أَنَّهُ إِنْ أَخَذَ السِّلْعَةَ احْتُسِبَ بِهِ مِنَ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَأْخُذْهَا فَذَلِكَ لِلْبَائِعِ.
“‘Urbun dalam jual beli adalah seseorang membeli barang, kemudian menyerahkan kepada penjual satu dirham atau selainnya, dengan ketentuan apabila ia mengambil barang tersebut, uang itu diperhitungkan sebagai bagian dari harga, dan apabila ia tidak mengambilnya, uang tersebut menjadi milik penjual.”
Hukum: Mayoritas ulama’ melarangnya, sedangkan pendapat populer dalam mazhab Hanbali membolehkannya.
Dalil:
Mereka yang melarang berdalil dengan riwayat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ.
“Rasulullah ﷺ melarang jual beli ‘urban.”
Takhrij: Abu Dawud (3502), Ibn Majah (2192), dan Ahmad (6723). Dinilai lemah oleh al-Nawawi dan al-Albani.
Mereka yang membolehkan berdalil dengan riwayat Abū ats-Tsaurī:
«أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ اشْتَرَى مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ دَارَ السِّجْنِ بِأَرْبَعَةِ آلَافِ دِرْهَمٍ، وَإِنْ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَضِيَ، فَالْبَيْعُ بَيْعُهُ، وَإِنْ عُمَرُ لَمْ يَرْضَ فَلِصَفْوَانَ أَرْبَعُمِائَةِ دِرْهَمٍ، فَأَخَذَهَا عُمَرُ»
“Sesungguhnya Nāfi‘ bin ‘Abd al-Ḥārits membeli dari Ṣafwān bin Umayyah sebuah rumah untuk dijadikan penjara dengan harga empat ribu dirham, dengan ketentuan: apabila ‘Umar رضي الله عنه menyetujuinya, maka jual beli itu menjadi jual belinya; dan apabila ‘Umar tidak menyetujuinya, maka Ṣafwān berhak mendapatkan empat ratus dirham. Kemudian ‘Umar pun mengambil rumah tersebut.”
Takhrij: Diriwayatkan oleh ‘Abd ar-Razzāq (9213), al-Azraqī dalam Akhbār Makkah (2/165), dan Ibn Abī Syaibah (23662) dengan redaksi yang semakna. Dinilai mursal oleh Ibn al-Mundzir dalam al-Awsaṭ 6/398.
Pandangan Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī kontemporer
Dalam Keputusan No. 72 (8/3), tanggal 27 Juni 1993, Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī al-Duwalī membolehkan ‘urbūn dengan ketentuan tertentu.
Keputusannya menyatakan:
يَجُوزُ بَيْعُ الْعُرْبُونِ إِذَا قُيِّدَتْ فَتْرَةُ الِانْتِظَارِ بِزَمَنٍ مَحْدُودٍ.
“Jual beli ‘urbūn diperbolehkan apabila masa penantiannya dibatasi dengan waktu tertentu.”
Ketentuan pentingnya:
- Masa tunggu atau hak pembatalan ditentukan.
- Uang muka dihitung sebagai bagian harga jika transaksi diselesaikan.
- Jika pembeli membatalkan, uang muka menjadi milik penjual.
- Ketentuan ini tidak diterapkan pada akad yang mensyaratkan serah terima khusus seperti salam dan sharf dalam bentuk yang diatur keputusan tersebut.
16. Jizāf (Taksiran)
Definisi:
بيع الشيء بلا كيل ولا وزن ولا عدد، وإنما بالحزر والتخمين بعد المشاهدة أو الرؤية له.
“menjual sesuatu tanpa ditakar, ditimbang, atau dihitung, tetapi hanya berdasarkan perkiraan dan taksiran setelah barang tersebut disaksikan atau dilihat.”
[Lihat: al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu karya az-Zuḥailī (5/3675)]
Hukum: Dibedakan dalam dua kondisi:
- Jual-beli tumpukan barang, hukumnya boleh berdasarkan kesepakatan ulama’, tetapi ada perbedaan dalam rinciannya.
- Jual-beli uang, perhiasan, dan barang yang dihiasi perhiasan. Hukumnya boleh pada harta non-ribawi. Namun pada harta ribawi yang ditukar dengan sejenisnya, maka tidak boleh secara juzāf.
Dalil:
Dari Jābir bin ‘Abdullāh, berkata:
«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الصُّبْرَةِ مِنَ التَّمْرِ، لَا يُعْلَمُ مَكِيلَتُهَا، بِالْكَيْلِ الْمُسَمَّى مِنَ التَّمْرِ»
“Rasulullah ﷺ melarang menjual setumpuk kurma yang tidak diketahui takarannya dengan kurma yang takarannya telah ditentukan.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 1530
Catatan istilah: aṣ-ṣubrah (الصُّبْرَة) adalah tumpukan barang makanan atau sejenisnya yang jumlah atau takarannya belum diketahui secara terperinci.
Makna dari hadis tersebut:
Boleh menjual kurma secara juzāf (taksiran tanpa mengetahui ukuran secara pasti) apabila harga pembayarannya berupa jenis lain selain kurma. Namun, apabila harga pembayarannya juga berupa kurma, maka jual beli tersebut haram karena mengandung riba faḍl.
[Lihat: al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu karya az-Zuḥailī (5/3676)]
Dari Ibn ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنِ اشْتَرَى طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ»
“Barang siapa membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya sampai ia menerimanya secara sempurna.”
Ibn ‘Umar berkata:
«وَكُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جُزَافًا، فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَبِيعَهُ، حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ»
“Dahulu kami membeli makanan dari para kafilah secara juzāf (tanpa ditakar atau ditimbang secara terperinci). Kemudian Rasulullah ﷺ melarang kami menjualnya sampai kami memindahkannya dari tempatnya.”
[Sumber: Ṣaḥiḥ Muslim no. 1526, 1527]
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi mendiamkan (iqrār) praktik jual-beli juzāf yang dilakukan para Sahabat.
Malang, 5 November 2026
Ahmad Ubaidillah Nasiden
Link Kuis Materi, 20 soal (pilihan ganda):
