CATATAN • KAJIAN • PEMIKIRAN • AKADEMI

Mengingkari Kemungkaran yang Dilakukan Penguasa/Pemerintah

•

Singgasana merah berhias emas di aula gotik dengan kaca patri

Kaidah 1: Hukum Asal Mengingkari Kemungkaran kepada Pemerintah Adalah Secara Rahasia

Dalil yang sering disalahpahami dan dianggap sebagai dalil dianjurkannya mengingkari kemungkaran yang dilakukan pemerintah secara terang-terangan, yaitu hadis:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah perkataan adil di hadapan penguasa yang zalim.”

[HR. Abu Dawud no. 4344, dinilai sahih oleh al-Albani.]

Lafaz “di hadapan penguasa” menegaskan penyampaian kepada penguasa; tetapi tidak disebutkan secara eksplisit dalam redaksi hadis: apakah dilakukan secara terbuka atau tertutup. Karena itu, penggunaannya sebagai dalil pengingkaran secara terbuka perlu didampingi riwayat yang lebih khusus.

Dalil utama yang memerintahkan untuk mengingkari kemungkaran yang dilakukan pemerintah itu secara rahasia adalah

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فِي أَمْرٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ

“Barang siapa hendak menasihati pemegang kekuasaan dalam suatu perkara, janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia memegang tangannya lalu menyendiri bersamanya.”

Rujukan: Ahmad no. 15333; Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, antara lain no. 1097. al-Albani menilainya sahih.

Demikian pula praktik sebagian sahabat Nabi, di antaranya Usamah bin Zaid menasihati Khalifah ‘Utsman secara rahasia.

Ketika diminta berbicara kepada ‘Utsman, Usamah berkata:

إِنَّكُمْ لَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ، إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Sesungguhnya kalian benar-benar mengira bahwa aku tidak berbicara kepadanya kecuali dengan memperdengarkannya kepada kalian. Sesungguhnya aku berbicara kepadanya secara rahasia, tanpa membuka suatu pintu yang aku menjadi orang pertama membukanya.”

[Sumber: diriwayatkan al-Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989.]

Begitu juga Ibnu ‘Abbas mengarahkan Sa‘id bin Jubair agar berbicara empat mata. Suatu saat Sa‘id bertanya kepada beliau apakah ia perlu memerintahkan pemimpinnya kepada yang makruf. Ibnu ‘Abbas menjawab:

إِنْ خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ فَلَا، فَإِنْ كُنْتَ وَلَا بُدَّ فَاعِلًا فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

“Jika engkau khawatir ia akan membunuhmu, maka jangan. Jika engkau memang harus melakukannya, maka lakukanlah antara dirimu dan dirinya.”

[Rujukan: Sunan Sa‘id bin Manshur no. 846. Sanadnya dinilai hasan dalam tahqiq kitab tersebut.]

Masalah: Mengapa diperintahkan untuk mengingkarinya secara rahasia?

  1. Karena nasehat itu jika disampaikan secara rahasia akan lebih mudah untuk diterima.

Al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H) berkata saat menjelaskan ucapan Usamah tadi kepada ‘Utsman:

وفيه التلطف مع الأمراء، وعرض ما ينكر عليهم سراً، وكذلك يلزم مع غيرهم من المسلمين ما أمكن ذلك، فإنه أولى بالقبول وأجدر بالنفع، وأبعد لهتك الستر وتحريك الأنفة.

“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk bersikap lembut terhadap para penguasa dan menyampaikan kepada mereka secara rahasia perkara-perkara yang diingkari dari mereka.

Demikian pula hal itu semestinya dilakukan terhadap kaum Muslimin selain mereka selama memungkinkan.

Sebab cara demikian lebih dekat untuk diterima, lebih layak memberikan manfaat, lebih jauh dari membuka aib, dan lebih jauh dari membangkitkan rasa harga diri dan penolakan.”

[Lihat: Ikmāl al-Mu‘lim bi Fawā’id Muslim (8/538)]

  1. Karena mengingkari secara terang-terangan bisa berujung kepada pertumpahan darah.

Al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H) berkata saat menjelaskan ucapan Usamah tadi kepada ‘Utsman:

يعنى فى المجاهرة  بالنكير والقيام بذلك على الأمراء، وما يُخشى من سوء عقباه كما تولد من إنكارهم جهارًا على عثمان بعد هذا، وما أدى إلى سفك دمه واضطراب الأمور بعده.

“Maksudnya adalah dalam melakukan pengingkaran secara terang-terangan dan bangkit melakukan hal itu terhadap para penguasa, serta apa yang dikhawatirkan berupa buruknya akibat yang ditimbulkannya.

Sebagaimana kemudian lahir dari pengingkaran mereka secara terang-terangan terhadap ‘Utsmān setelah peristiwa ini, dan apa yang akhirnya menyebabkan tertumpahnya darah beliau serta kacaunya berbagai urusan setelahnya.”

[Lihat: Ikmāl al-Mu‘lim bi Fawā’id Muslim (8/538)]

Kaidah 2: Boleh Mengingkari Kemungkaran kepada Pemerintah Secara Terang-terangan, Apabila Secara Rahasia tidak Memungkinkan dan Mengandung Maslahat yang Dominan

An-Nawawi (w. 676 H) berkata saat menjelaskan hadis Usamah tadi:

وفيه الأدب مع الأمراء ، واللطف بهم ، ووعظهم سرا ، وتبليغهم ما يقول الناس فيهم لينكفوا عنه ، وهذا كله إذا أمكن ذلك ، فإن ذلك ، فإن لم يمكن الوعظ سرا والإنكار فليفعله علانية لئلا يضيع أصل الحق

“Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang adab terhadap para penguasa, bersikap lembut kepada mereka, menasihati mereka secara rahasia, dan menyampaikan kepada mereka apa yang dikatakan masyarakat tentang mereka agar mereka menghentikan perkara tersebut.

Semua ini berlaku apabila hal tersebut memungkinkan. Namun apabila nasihat dan pengingkaran secara rahasia tidak memungkinkan dilakukan, maka hendaklah pengingkaran dilakukan secara terang-terangan, agar pokok kebenaran tidak menjadi hilang.”

[Lihat: Syarah Shahih Muslim 18/412]

Ibnu Utsaimin membahas masalah ini cukup panjang, di antara penggalan fatwanya:

كذلك أيضاً في مسألة مناصحة الولاة، من الناس من يريد أن يأخذ بجانب من النصوص وهو إعلان النكير على ولاة الأمور، مهما تمخض عنه من المفاسد،

“Demikian pula dalam masalah menasihati para penguasa. Di antara manusia ada yang hanya ingin mengambil satu sisi dari nash-nash, yaitu mengumumkan pengingkaran terhadap para penguasa, apa pun kerusakan yang lahir darinya.

ومنهم من يقول: لا يمكن أن نعلن مطلقاً، والواجب أن نناصح ولاة الأمور سراً كما جاء في النص الذي ذكره السائل،

Ada pula yang mengatakan:

‘Kita sama sekali tidak boleh mengumumkannya. Yang wajib adalah menasihati para penguasa secara rahasia,’ sebagaimana disebutkan dalam nash yang disampaikan oleh penanya.

ونحن نقول: النصوص لا يكذب بعضها بعضاً، ولا يصادم بعضها بعضاً،

Kami mengatakan: Dalil-dalil itu tidak saling mendustakan dan tidak saling bertentangan.

فيكون الإنكار معلناً عند المصلحة، والمصلحة هي أن يزول الشر ويحل الخير، ويكون سراً إذا كان إعلان الإنكار لا يخدم المصلحة، لا يزول به الشر ولا يحل به الخير.

Karena itu, pengingkaran dilakukan secara terang-terangan ketika terdapat maslahat. Maslahat tersebut ialah hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.

Adapun pengingkaran dilakukan secara rahasia apabila mengumumkannya tidak mendukung tercapainya maslahat; keburukan tidak hilang karenanya dan kebaikan pun tidak terwujud.

وأنتم تعلمون -بارك الله فيكم- أن ولاة الأمور لا يمكن أن يرضوا جميع الناس أبداً

Dan kalian mengetahui—semoga Allah memberkahi kalian—bahwa para penguasa tidak mungkin dapat membuat seluruh manusia merasa puas, selama-lamanya.”

[Sumber: Liqā’ al-Bāb al-Maftūḥ, pertemuan ke-62.]

Abdul Muhsin al-’Abbad dalam Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah, pelajaran ke-14, bagian pertanyaan tentang nasihat terbuka, ditanya:

Kapan nasihat dilakukan secara terang-terangan?

Beliau jawab:

 النصيحة في الأصل تكون سرية؛ لأن الإنسان هو نفسه لا يحب أن ينصح علانية، ولكن إذا حصل أمر فيه مخالفة للسنة وظهر وصارت المصلحة في إظهاره فإنه يكون علانية

“Pada asalnya nasihat dilakukan secara rahasia, karena seseorang pada dirinya sendiri tidak suka dinasihati secara terang-terangan.

Namun, apabila terjadi suatu perkara yang menyelisihi Sunnah, lalu perkara tersebut tampak, dan kemaslahatan terdapat pada menampakkannya, maka nasihat dilakukan secara terang-terangan.

مثل ما حصل من أبي سعيد الخدري مع مروان لما جاء يوم العيد وقدم الخطبة على الصلاة وصعد المنبر، وكان أبو سعيد يظن أنه قد نسي أو غفل؛ لأن العيد كما هو معلوم لا يأتي في السنة إلا مرتين، فقد يغفل الإنسان عن أيهما يقدم، فظن أنه نسي أو كذا فسحبه؛ فعلم أنه متعمد فتركه وجلس ولم ينصرف

Seperti yang terjadi antara Abū Sa‘īd al-Khudrī رضي الله عنه dengan Marwān. Ketika tiba hari raya, Marwān mendahulukan khutbah sebelum salat dan naik ke mimbar.

Abū Sa‘īd pada awalnya mengira bahwa ia lupa atau lalai, karena hari raya, sebagaimana diketahui, hanya datang dua kali dalam setahun. Maka terkadang seseorang bisa lupa mana yang harus didahulukan.

Ia mengira Marwān lupa atau semacamnya, lalu ia menariknya. Setelah ia mengetahui bahwa Marwān sengaja melakukannya, ia pun membiarkannya dan duduk, serta tidak meninggalkan tempat tersebut.”

[Lihat: Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah, pelajaran ke-14]

Dalil-dalil yang mendasari kaidah ini adalah sebagai berikut:

Kisah 1: Abu Sa’id dan Marwān:

Dari Abū Sa‘īd al-Khudrī, ia berkata:

كان رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَخرُجُ يَومَ الفِطرِ والأضحى إلى المُصَلَّى، فأوَّلُ شَيءٍ يَبدَأُ به الصَّلاةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu keluar pada hari Idulfitri dan Iduladha menuju tempat salat. Hal pertama yang beliau mulai adalah salat.

ثُمَّ يَنصَرِفُ، فيَقومُ مُقابِلَ النَّاسِ، والنَّاسُ جُلوسٌ على صُفوفِهم، فيَعِظُهم ويوصيهم ويَأمُرُهم، فإن كان يُريدُ أن يَقطَعَ بَعثًا قَطَعَه، أو يَأمُرَ بشيءٍ أمَرَ به، ثُمَّ يَنصَرِفُ

Kemudian beliau berpaling, lalu berdiri menghadap manusia, sementara mereka tetap duduk dalam saf-saf mereka. Beliau memberi nasihat kepada mereka, memberikan pesan-pesan kepada mereka, dan memerintahkan mereka.

Apabila beliau hendak memberangkatkan suatu pasukan, beliau pun memberangkatkannya. Atau jika beliau hendak memerintahkan suatu perkara, beliau memerintahkannya. Kemudian beliau pergi.”

Abū Sa‘īd berkata:

فلَم يَزَلِ النَّاسُ على ذلك حتَّى خَرَجتُ مع مَروانَ -وهو أميرُ المَدينةِ- في أضحًى أو فِطرٍ

“Manusia terus melakukan hal itu hingga aku keluar bersama Marwān—ketika itu ia adalah gubernur Madinah—pada hari Iduladha atau Idulfitri.

فلَمَّا أتَينا المُصَلَّى إذا مِنبَرٌ بَناه كَثيرُ بنُ الصَّلتِ

Ketika kami sampai di tempat salat, ternyata terdapat sebuah mimbar yang dibangun oleh Katsīr bin al-Ṣalt.

فإذا مَروانُ يُريدُ أن يَرتَقيَه قَبلَ أن يُصَلِّيَ، فجَبَذتُ بثَوبِه، فجَبَذَني فارتَفَعَ، فخَطَبَ قَبلَ الصَّلاةِ

Tiba-tiba Marwān hendak menaikinya sebelum melaksanakan salat. Maka aku menarik pakaiannya. Namun ia menarikku kembali, lalu naik ke mimbar dan berkhutbah sebelum salat.

Aku berkata kepadanya:

غَيَّرتُم واللهِ

‘Demi Allah, kalian telah mengubah [Sunnah].’

Ia berkata:

أبا سَعيدٍ، قد ذَهَبَ ما تَعلَمُ!

‘Wahai Abū Sa‘īd, apa yang engkau ketahui itu telah berlalu!’

Aku berkata:

ما أعلَمُ واللهِ خَيرٌ ممَّا لا أعلَمُ

‘Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik daripada apa yang tidak aku ketahui.’

Marwān berkata:

إنَّ النَّاسَ لَم يَكونوا يَجلِسونَ لَنا بَعدَ الصَّلاةِ، فجَعَلتُها قَبلَ الصَّلاةِ.

‘Sesungguhnya orang-orang tidak mau tetap duduk bersama kami setelah salat. Karena itu aku menjadikan khutbah sebelum salat.’”

Takhrij: Diriwayatkan oleh al-Bukhārī (956) Muslim (889) dengan sedikit perbedaan lafaz.

Di versi riwayat lain, yang mengingkari adalah orang lain. Dari Abū Sa‘īd al-Khudrī, ia berkata:

“Orang pertama yang memulai khutbah pada hari raya sebelum salat adalah Marwān. Lalu seorang laki-laki berdiri menghadap kepadanya dan berkata:

الصَّلاةُ قَبلَ الخُطبةِ

‘Salat itu sebelum khutbah.’

Marwān menjawab:

قد تُرِك ما هُنالِك

‘Apa yang dahulu dilakukan di sana telah ditinggalkan.’

Maka Abū Sa‘īd berkata:

أمَّا هذا فقد قَضى ما عليه

‘Adapun orang ini, sungguh ia telah menunaikan kewajiban yang menjadi tanggungannya.’

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

‘Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.’

Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 49

Kisah 2: ’Ubadah dan Mu’awiyah:

Dari Abu Qilabah, ia berkata: “Aku berada di Syam dalam sebuah majelis yang di dalamnya ada Muslim bin Yasir. Datanglah Abu al-Ash’ath. Ia duduk dan aku berkata kepadanya: Ceritakan kepada saudara kami hadits Ubada bin Samit.

Ia berkata:

نَعَمْ غَزَوْنَا غَزَاةً وَعَلَى النَّاسِ مُعَاوِيَةُ فَغَنِمْنَا غَنَائِمَ كَثِيرَةً فَكَانَ فِيمَا غَنِمْنَا آنِيَةٌ مِنْ فِضَّةٍ فَأَمَرَ مُعَاوِيَةُ رَجُلاً أَنْ يَبِيعَهَا فِي أَعْطِيَاتِ النَّاسِ فَتَسَارَعَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ

“Ya. Kami pergi berperang dan di antara kami ada Mu’awiyah sebagai pemimpin. Kami memperoleh banyak harta rampasan. Di antara harta rampasan itu terdapat wadah dari perak. Mu’awiyah memerintahkan seseorang untuk menjualnya kepada orang-orang (tentara). Orang-orang bergegas untuk itu.”

Berita itu sampai kepada Ubada bin Samit, lalu ia berdiri dan berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرِّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحِ بِالْمِلْحِ إِلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ عَيْنًا بِعَيْنٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ melarang penjualan emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, barley dengan barley, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, kecuali sama dengan sama, dan seimbang dengan seimbang. Maka siapa yang menambah atau menerima tambahan, maka ia telah terjerumus dalam riba.”

Maka orang-orang mengembalikan apa yang mereka ambil. Ini sampai kepada Mu’awiyah, lalu ia berdiri untuk berkhutbah. Ia berkata:

أَلاَ مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَحَدَّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَحَادِيثَ قَدْ كُنَّا نَشْهَدُهُ وَنَصْحَبُهُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُ

“Apa yang terjadi dengan orang-orang yang meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ hadits-hadits yang tidak kami dengar padahal kami menyaksikannya dan bersamanya?”

Kemudian Ubada bin Samit berdiri dan mengulangi kisah tersebut, lalu ia berkata:

لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ – أَوْ قَالَ وَإِنْ رَغِمَ – مَا أُبَالِي أَنْ لاَ أَصْحَبَهُ فِي جُنْدِهِ لَيْلَةً سَوْدَاءَ

“Sungguh, kami benar-benar akan menyampaikan apa yang telah kami dengar dari Rasulullah ﷺ, meskipun Mu‘āwiyah tidak menyukainya—atau ia berkata: meskipun Mu‘āwiyah tidak berkenan.

Aku tidak peduli jika aku tidak menyertainya dalam pasukannya meskipun pada satu malam yang gelap.”

[HR. Muslim no. 1587]

Kisah 3: Ka’ab bin ’Ujrah:

Ka’b bin ‘Ujra melaporkan bahwa ia masuk ke masjid dan melihat Abd al-Rahman bin Umm Hakam sedang berkhutbah dalam posisi duduk. Maka ia berkata:

انْظُرُوا إِلَى هَذَا الْخَبِيثِ يَخْطُبُ قَاعِدًا وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

Lihatlah orang yang celaka ini; ia menyampaikan khutbah sambil duduk, sedangkan Allah berfirman: “Dan ketika mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka berpencar ke arahnya dan meninggalkanmu berdiri.”

[HR. Muslim no. 864]

Kisah 4: ‘Umarah bin Ruwaibah:

‘Umarah bin Ruwaibah berkata bahwa ia melihat Bishr bin Marwan (di atas mimbar) berdoa pada hari Jumat. ‘Umarah berkata:

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ . لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَا يَزِيدُ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي السَّبَّابَةَ الَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ

“Semoga Allah menolak kedua tangan ini! Saya telah melihat Rasulullah ﷺ di atas mimbar tidak lebih dari ini, yaitu menunjuk dengan jari telunjuk yang berdekatan dengan ibu jari.”

[HR. Abu Daud no. 1104]

Kaidah 3: Mengingkari Kemungkaran Pemerintah tidak Sama dengan Memberontak

Ibnu Rajab (w. 795 H) berkata:

وحينئذٍ فجهادُ الأمراءِ باليد أنْ يُزيلَ بيده ما فعلوه مِنَ المنكرات، مثل أن يُريق خمورَهم أو يكسِرَ آلات الملاهي التي لهم، ونحو ذلك

“Dengan demikian, mengingkari para penguasa dengan tangan adalah seseorang menghilangkan dengan tangannya berbagai kemungkaran yang mereka lakukan. Misalnya, ia menumpahkan khamar mereka, atau menghancurkan alat-alat hiburan yang mereka miliki, dan semisalnya.

أو يُبطل بيده ما أمروا به مِنَ الظُّلم إن كان له قُدرةٌ على ذلك

Atau ia membatalkan dengan tangannya suatu kezaliman yang mereka perintahkan, apabila ia memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

وكلُّ هذا جائزٌ، وليس هو من باب قتالهم، ولا مِنَ الخروج عليهم الذي ورد النَّهيُ عنه

Semua ini diperbolehkan, dan tidak termasuk dalam kategori memerangi mereka, serta tidak pula termasuk keluar memberontak terhadap mereka, yang telah terdapat larangan mengenainya.”

[Lihat: Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (2/248–249, tahqīq al-Arna’ūṭ)]

Dalilnya dapat terlihat jelas dalam hadis berikut, dari Ummu Salamah, Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ

“Sesungguhnya akan diangkat atas kalian para penguasa. Kalian akan mengetahui sebagian perbuatan mereka sebagai kebaikan dan mengingkari sebagian lainnya.

Maka barang siapa membenci [kemungkaran itu], sungguh ia telah berlepas diri. Dan barang siapa mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi [yang berdosa adalah] orang yang meridhainya dan mengikutinya.”

Para sahabat bertanya:

يا رَسولَ اللهِ، ألا نُقاتِلُهم؟

“Wahai Rasulullah, apakah kami tidak memerangi mereka?”

Beliau menjawab:

لَا، مَا صَلَّوْا

“Tidak, selama mereka masih melaksanakan salat.”

[Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 1854]

Sisi pendalilannya: dalam satu rangkaian hadis, Nabi ﷺ membedakan:

  • Pengingkaran terhadap kemungkaran penguasa: orang yang melakukannya dinyatakan selamat.
  • Memerangi penguasa: dilarang dalam keadaan yang disebutkan hadis.

Pembedaan ini menunjukkan bahwa pengingkaran kemungkaran tidak otomatis memiliki hukum yang sama dengan memerangi penguasa.

Kaidah 4: Mentaati Penguasa tidak Berarti Membela Kezhalimannya

Dari Ka‘b bin ‘Ujrah -semoga Allah meridhainya-, ia berkata:

Rasulullah ﷺ keluar menemui kami, sementara kami berjumlah sembilan orang: lima dan empat; salah satu kelompok dari bangsa Arab dan kelompok yang lain dari bangsa ‘Ajam.

Beliau bersabda:

اسمعوا هل سمعتُم أنه سيكون بعدي أمراءُ

“Dengarkanlah. Apakah kalian pernah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para penguasa?

فمن دخل عليهم فصدَّقهم بكذبِهم وأعانهم على ظُلمهم فليس مني ولستُ منه وليس بواردٍ عليَّ الحوضَ

Maka barang siapa masuk menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya, serta ia tidak akan datang kepadaku di telaga.

ومن لم يدخلْ عليهم ولم يعنْهم على ظلمِهم ولم يصدِّقْهم بكذبهم فهو مني وأنا منه، وهو واردٌ عليَّ الحوضَ

Dan barang siapa tidak masuk menemui mereka, tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, dan tidak membenarkan kedustaan mereka, maka ia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya, serta ia akan datang kepadaku di telaga.”

Sumber: Sunan at-Tirmiżī, no. 2259, dishahihkan at-Tirmidzi dan al-Albani.

 

Surabaya, 8 November 2026 / 28 Jumadilawal 1448

Ahmad Ubaidillah Nasiden

TOPIK TULISAN

← Tulisan sebelumnya